Talk To Us

Pratinjau

Buku ini, yang merupakan bagian ke-2 riwayat Mangkurat I yang memerintah Mataram sejak kematian Sultan Agung, secara khusus menyoroti perkembangan yang terjadi di dalam Istana dan keadaan dalam negeri kerajaan yang menyebabkan Mangkurat I terpaksa meninggalkan Ibu Kota. Kedudukan sang raja, dengan basis kekuasaan yang terus menciut, semakin dipersulit oleh tindakan kekerasan dari luar, pemberontakan dari dalam, dan tidak kurang pentingnya perilaku putra mahkota yang kacau. Kendati mendapat bantuan dari VOC, akhirnya serangan dari Trunajaya dan sekutunya tidak terbendung. Dalam suasana anarki dan panik, raja yang sudah jompo meninggalkan kediamannya untuk mengungsi dan meninggal.

Detail

  • Penerbit: MataBangsa
  • Softcover: 376 halaman
  • Harga: Rp150.000

Tentang penulis

Dr. H.J. De Graaf
Kimberly Brighton is a former criminal lawyer and incidental humorist from the Philadelphia area. She studied satirical writing and [...]
More

Abad 16 bagai anak tiri yang terlantar dalam sejarah Jawa. Dalam banyak tulisan dan kajian, hampir tak ada tempat bagi Senapati di Mataram, kerajaan yang kelak memainkan peranan penting di panggung sejarah. Buku ini mengupas itu semua, proses naiknya Senapati, pedalaman-pesisir Jawa, dan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.



Budaya dan Masyarakat Orang bisa memberi tafsir yang bermacam-macam tentang perubalian masyarakat dan kebudayaan, karena kedua-duanya memang kaya dengan muaran. Buku ini merupakan hasil pengembaraan intelektual Kuntowijoyo dalam kapasitasnya sebagai sejarawan dan budayawan, yang sangat intens dalam mengamati masyarakat Ditambah dengan penguasaan yang lua terhadap teori-teori “acmal besar”, menjadikan karya…



Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dan perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang. Dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tanı. Saat itu sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia, karena dari sini lahirlah…



Salah satu dari konsep sufisme itu, ikhlas, saya ungkapkan lewat cerpen “Sepotong Kayu untuk Tuhan” dalam kumpulan Dilarang Mencintai Bunga-Bunga. Seorang laki-laki tua dengan susah payah telah menebang pohon dan mendorong- nya ke seberang sungai untuk sumbangan pem- bangunan surau. Kayu itu diletakkannya di pinggir sungai. Akan tetapi, banjir membawa…



Find out more

Book a call at a time that suits you

linkedin

Find us on linkedin